Being single for so long dan akhirnya menikah di usia hampir 40 tahun, pertanyaan yang banyak dilemparkan ke saya, selain how do you know she is the one? adalah “emang gimana ketemunya?”.


Sekitar akhir 2017 atau awal 2018, mama sempet ngomong, “ini ada anak temennya mama, namanya Ivon”.

Saya emang tipe yang ga terlalu peduli soal begini. Jadi ga terlalu peduliin. Beberapa tahun lalu, Mama juga sudah 2x mencoba mengenalkan saya ke anak temennya. Ga agresif kayak mamak-mamak lain. Tapi Beliau tetep usaha. πŸ˜€


Fast forward ke Januari 2019, di mobil, saat otw balik ke rumah dari sarapan di kedai kopi, out of the blue, mama kembali nyebut nama Ivon.

“Tumben nyebut sampe 2x”, pikir saya.

“Ini ada instagramnya”, lanjut emak.

“Ya udah, coba liat mana orangnya”, saya iseng.

Setelah scroll beberapa postingan di feed. Saya berkomentar, “Boleh juga nih”.

“Kamu mau WhatsApp-nya? Mama punya”, langsung ditawarin.

Ternyata emak sudah lama minta nomer WA-nya. Sudah follow IG juga. Mereka bertemu di pesta nikah anak temen mama dan kebetulan Ivon dan mamanya juga diundang. Duduk sebelahan satu meja.

Mama udah merhatiin Ivon sejak momen itu. Wanting to introduce to me ever since. 😁


“Oh ga perlu. Kalo ini, bisa sendiri kok, ma”, saya tolak, out of gengsi πŸ˜‚, plus I don’t really have problem approaching women. Kenapa gak married-married, ya karna emang otak ini korslet aja. Ada kabel yang blom nyambung. 😎

Saya akhirnya mengirimkan pesan via DM Instagram ke Ivon. Dia balas dan kita lanjut pindah ke WhatsApp.

Saat itu, Ivon menjelaskan kalo dia lagi ga pengen memulai relationship apapun. Jadi pengen berteman aja. I understand that she said this to set boundaries and manage my expectation. Fair enough.

Ya saya chat juga ga ada mengutarakan niat untuk jadiin dia pacar atau istri, lah wong baru chat kan. Pengen kenalan aja dulu. Trus see how it goes. Jadi ya, cocok. No pressure.


Setelah perkenalan itu, kita cuma sesekali saling komen IG Stories via DM. Ga ada komunikasi yang intens.

We went about our lives and I took a 2 weeks life-changing trip to Laos, Bangkok and Batam. Ceritanya bisa dibaca di postingan Why Did I Get Married?.


April 2019, saya dihubungi Ivon karna kantornya ingin berpromosi di perusahaan media saya. Itu momen kami kembali komunikasi.

Beberapa hari setelah itu, saya inisiatif untuk ngajak ketemuan. The rest is history.


We got married on March 5, 2020.

Our son was born on December 25, 2020.