“Menjadi kaum minoritas di Myanmar itu sulit”, Ruth (bukan nama sebenarnya) menceritakan kenapa ia menjadi pengungsi yang melarikan diri dari negaranya kepada saya. Dia terlihat sedikit berhati-hati dalam bercerita kepada saya. Orang asing yang baru dia kenal 5 menit lalu.
“Wanita Myanmar seperti saya, akan dipaksa untuk wajib militer, beresiko dipaksa menikah dengan polisi atau yang bernasib kurang baik, akan diperkosa oleh militer”, Ruth melanjutkan.

Mendengar kisah hidup wanita muda berusia 23 tahun ini, saya tidak bisa menyembunyikan raut wajah terkejut saya.
Myanmar, negara yang asing, ternyata punya kisah yang bersinggungan dengan saya sore itu. Di sebuah tempat laundry di daerah bukit bintang, KL.

Post ini akan diakhiri dengan kisah bahagia, tenang saja. 🙂


Hari ini adalah hari terakhir dari perjalanan saya ke Viet Nam. Saya sengaja menyempatkan diri menginap di Bukit Bintang, Kuala Lumpur hanya karena saya ingin makan kalap di jalan Alor dan mencuci semua pakaian kotor saya. Penerbangan kembali saya ke Pekanbaru itu besok pagi. Dengan adanya KLIA Express (kereta listrik), semuanya aman terkendali karena waktu tempuh dari KL Sentral ke KLIA2 hanya 33 menit. Sedangkan dari Bukit Bintang ke KL Sentral, hanya 10 menit menggunakan taksi.

Tiba di KLIA2 jam 2 siang, saya dan Marto bergegas ke platform bus di lantai 1 KLIA2 untuk membeli tiket bus. Well, kami memutuskan menggunakan bus ke KL Sentral karna tarifnya hanya RM 10 per orang. Waktu tempuh memang lebih lama daripada KLIA Express, yaitu 1 jam 30 menit. Since we are not rushing, we thought, why waste RM 35 per person riding on KLIA Express? 🙂

Perjalanan bus sangat nyaman karena bus tidak penuh jadi kami tidak perlu duduk berdampingan. Dengan tubuh yang besar dan dada yang bidang sementara ukuran kursi bus yang sempit, dipastikan saya dan Marto akan perang bahu. 😀
Lanjut menggunakan monorail, kami tiba di stasiun Bukit Bintang.

Saya melangkah menuju tempat laundry bernama SpeedyWash yang berjarak sekitar 300 meter dari stasiun. Marto mengikuti sambil melihat suasana Bukit Bintang yang mengalami banyak perubahan sejak ia datang terakhir tahun 2008 lalu.
Speedywash adalah layanan mesin laundry self-service yang dapat digunakan untuk mencuci semua baju kotor saat liburan. 2 backpack kami dengan berat pakaian sekitar 10Kg, dicuci bersih dan kering (yes, kering) dalam waktu kurang dari 1 jam dengan biaya RM 10. Harum dan tidak kusut. 🙂

Saya memperhatikan putaran demi putaran melalui lingkaran transparan di bagian depan mesin cuci. Sesekali terlihat busa dari deterjen yang telah disediakan otomatis di dalam mesin. Sore itu, selain kami, ada 2 pelanggan lain. Seorang wanita mengenakan baju pink muda dengan rok pendek berwarna lebih tua dan seorang pria paruh baya botak berbadan kekar mengenakan kaos putih dan celana jeans.

Saya berdiri di depan meja di sudut ruangan sambil mengeluarkan satu per satu pakaian yang sudah kering dari keranjang. Sambil melipat, wanita yang dari tadi menonton video youtube di tabletnya, beranjak dari duduknya dan mulai merapikan baju-bajunya yang telah bersih di meja yang sama.

Is this all yours?“, tanya saya membuka percakapan.
No“, dia membalas sambil menggelengkan kepala dan tersenyum.
Oh, it belongs to your customers’?“, saya bertanya kepo lagi.
No. This is mine and this is my bro’s“, Ruth menjawab pertanyaan saya.

Dia terlihat sedikit tidak sabar untuk bertanya balik. “Are you Indonesian?“.
Yes, how do you know?“, saya penasaran.
I hear when you were talking just now“, dia menjelaskan.

Me: “Where are you from?
Ruth: “Myanmar
Me: “What are you doing here?
Ruth: “Working at Sungei Wang Plaza
Me: “Wait, you are from Myanmar and you are working in Malaysia? How’s that possible?
Ruth: “Through UN”

Saat saya mendengar UN, kebingungan saya makin bertambah. Bagaimana mungkin seorang wanita Myanmar bekerja di Malaysia melalui United Nations?

Me: “You mean, UN … UN?”
Ruth: “Yes, the United Nations
Me: “Wait, but how?
Ruth: “Through their programme for refugee. Do you know refugee?

Ya, saya tau arti kata “Refugee“, namun sesaat saya gak yakin apa yang saya dengar. UN? Refugee? Wait, what? These words are just too big to handle. O_o
Dalam pikiran saya, obrolan sore ini di tempat laundry hanya akan menjadi obrolan singkat, ringan, dan sedikit basa-basi. Siapa sangka wanita muda ini menyimpan kisah yang pelik. Tentang dia, keluarganya, negara tempat kelahiran yang tidak nyaman buatnya dan negeri orang tempat tinggalnya.

3 tahun sudah Ruth menetap dan bekerja di Malaysia. Dengan gajinya yang hanya RM 1,500, bersama adiknya, dia menyewa kos dekat dengan tempat kerjanya seharga RM 430 per bulan. Dengan bantuan biaya dari keluarganya, dia melarikan diri dari Myanmar dengan jalan darat menuju Malaysia melalui Thailand. Resiko yang dia hadapi di negaranya memaksa dia menjadi pengungsi. Hidup layak. Itu saja tujuannya.

Ruth mengeluarkan kartu dari tasnya dan memberikannya ke saya. UNHCR adalah nama program PBB tempat dia dan 95.000-an warga pengungsi Myanmar bernaung. Tanpa passport Myanmar, Ruth dan adiknya masuk ke Malaysia secara ilegal. Dibantu oleh asosiasi suku Chin Myanmar (kalo gak salah denger) yang ada di Kuala Lumpur, mereka dibawa ke kantor UNHCR untuk mendapatkan bantuan. Kartu ini adalah satu-satunya identitas diri yang akan membantunya tidak ditangkap ketika sweeping dilakukan oleh Polis Diraja Malaysia.

Ruth sempat enggan ketika saya ingin memotret kartunya dengan smartphone saya. Akhirnya saya meyakinkan dia ini hanya untuk blog pribadi saya dan berjanji tidak menampilkan data dan fotonya, Ruth setuju. 🙂

Kartu Identitas dari UNHCR untuk Ruth

Kartu Identitas dari UNHCR untuk Ruth

Sekarang, Ruth sedang mengajukan diri untuk bekerja di Amerika. Dia sudah melewati proses wawancara dan sedang menunggu keputusan. Tidak jelas apakah dia bisa pergi kesana melalui UN. Yang jelas, untuk saat ini, kehidupannya sudah jauh lebih baik ketimbang di Myanmar.


Berjalan kaki menuju hotel, saya gak henti-hentinya takjub dengan jalan hidup Ruth. Saya senang karena seutas harapan dapat ditemukannya di tempat lain. Tempat tidur yang paling nyaman, ternyata tidak selalu di kamar sendiri. Ruth dan puluhan ribu pengungsi lainnya menemukan hidup di tempat yang jauh dari rumah.

Saya mungkin tidak akan bertemu dengan Ruth lagi. Namun saya senang bertemu dengan dia hari ini. Cerita singkat tentang hidupnya membuka mata saya. Masih banyak yang kita tidak mengerti dalam hidup. Perjalanan saya akan membawa saya ke lebih banyak cerita yang saya percaya, akan mengubah diri saya. Lewat blog ini, saya juga berharap, cerita-cerita mereka akan sampai ke lebih banyak orang.

Dear Ruth,

I am here to wish you the best in life. Every human deserves to live in peace and to taste the beautiful life.

Stranger at the Laundry

Facebooktwitterlinkedin