Bukan, ini bukan judul yang memancing orang untuk membaca. Ini memang terjadi saat saya berkunjung ke Bukit Bintang awal tahun 2015. So, you are safe to continue reading with your expectations ON. Don’t turn it off. ūüėÄ

Detik-detik pergantian tahun saya lewati dengan tertidur pulas dan mematikan HP. I know there will be lots of broadcast messages on my phone. Berisik. Haha. Sudah seminggu saya berada di Johor Bahru untuk pesta pernikahan adik saya yang paling kecil, Amel. Kami semua mungkin sudah terlalu cape untuk merayakan tahun baru soalnya baru melewati pesta pernikahan.
It was one great wedding ceremony and party, I should say. Despite some unexpected¬†things that we need to take care, it went¬†smooth!¬†ūüôā

Seminggu di Johor, saya merencanakan menghabiskan sisa liburan akhir tahun saya di Kuala Lumpur saja. Toh untuk bisa kembali ke Pekanbaru, saya harus tetap terbang dari KL.¬†Nah, belakangan, saya selalu haus untuk mencoba berbagai pengalaman baru dalam traveling. Jika ngikutin¬†cerita-cerita perjalanan saya yang lalu, belakangan saya suka spontan. Jalan-jalan tanpa banyak perencanaan. Bisa berubah di detik-detik terakhir. Besok bagaimana, malam ini baru saya pikirkan. ūüėÄ

Pengalaman baru apa yang saya cari kali ini?
Pengalaman tidur dengan orang asing.
Yes, you read it right.
Tepatnya, saya ingin mencoba menginap di Hostel/Guest House. Hotel kelas murah meriah meledak. Tidur rame-rame dengan orang yang tidak kita kenal. Bukan sodara, bukan teman, bukan sulap, bukan sihir.

Deg-degan? Yes. Selalunya tinggal di Hotel.
Yah, saya memang cowo, tapi tetap saja banyak pertanyaan muncul di kepala saya sebelum menekan tombol “Book” di website.

“Barang-barang gue aman gak ya?”
“Ntar duit ditilep temen sekamar gak?”
“Kalo HP atau laptop dicuri gimana?”

“Apa rasanya dipelototin sama orang lain saat tidur yak?”
“Ntar temen sekamarnya siapa? Jangan-jangan psyco?”
“Nyaman gak ya tidur kalo ada yang keluar masuk kamar gitu?”
“Lampu kamar kalo ga dimatiin, susah tidur donk”
“Kamar mandinya kotor ga sih ya?”

Trus pertanyaan spesifik, “tempat tidurnya cukup panjang buat gue yang 180cm ini ga ya?”
Sampe ke yang serem-serem seperti:

“Kalo gue dilecehkan secara seksual, gimanaaa?”
Hahaha. Sumpah yang ini kekhawatiran pertama sebenarnya.
“Kalo di gangbang kan gak lucu.”
“Mulut dibekep, tangan diiket, trus ditetesin lilin ke badan, apa dicambuk-cambuk?”.
Nyahahaha… ini udah sadomasochism. Ga sampe sejauh itu sih mikirnya. Hahaha.

Mencari Hostel yang bagus bukan hal yang sulit di jaman sekarang. Soalnya website booking hotel sudah memberikan rating dan fasilitas review. Saran saya, cari yang ratingnya diatas 7.0. Semakin tinggi semakin baik. Dibawah itu, mendingan jangan deh. Setelah itu baca reviewnya.

Saya memilih “Serenity Hostel” yang terletak di Jalan Changkat, Bukit Bintang. Ratingnya 7.4. Reviewnya banyak yang bagus. Harga per malamnya dengan kurs saat itu, Rp 90.000,-. Saya memilih kamar dengan 8 bed. Shared. Artinya cowo cewe digabung.
Well, I lost my hostel virginity to serenity. Hahahahaha.

Tanggal 1 Januari 2015, perjalanan dari Johor ke KL saya tempuh dengan bus sekitar 4 jam dari Larkin Bus Station. Tiba di Terminal Bersepadu Selatan, saya melanjutkan ke KL Sentral dengan menggunakan Rapid KL. Kemudian dari KL Sentral, menggunakan monorail, saya tiba di Bukit Bintang.

Tidak sulit mencari Hostel ini. Saya hanya perlu bertanya 1x ke staff sebuah bar yang ada di daerah itu. Yes, sepanjang jalan changkat, kiri kanannya adalah bar dan night club. The hippiest spot in Bukit Bintang. Kalau malam, ruame banget! Semuanya berpesta, minum-minum, musik keras, happening lah.

serenity-hostel

Hostel ini sendiri posisinya di lantai 3 dan aksesnya dari tangga samping. Diapit oleh 2 bar.
Keamanan hostel ini cukup terjaga karena akses ke hostel dilengkapi dengan pintu otomatis yang hanya bisa dibuka oleh resepsionis hostel. Jadi tekan bel, dan kita menunggu pintu dibuka. Kemudian ada beberapa CCTV di bagian dalam hostel.

Saya masuk ke hostel dan langsung merasa nyaman. Suasananya homy. Bersih dan tenang.
Resepsionis siang itu adalah seorang pria berusia sekitar 40 tahun. Mungkin berkebangsaan Bangladesh yang fasih berbahasa Inggris. Dengan jenggot yang lebat menutupi hampir seluruh dagunya, mas ini menjelaskan secara rinci mengenai fasilitas dan peraturan di Hostel.

living-room-serenity-hostels

Ruang Tamu Serenity Hostels.

You are lucky because you check in today. Not yesterday. It was very crowded here. Many of them were¬†partying to celebrate new year here in the living room. Some of them were drinking. Quite noisy.”, mas Bangladesh ini membuka pembicaraan.

About 29 of them checked out this morning“, lanjutnya tanpa membiarkan saya berkomentar.
Is this your first time here?“, si mas yang sedari tadi menunduk sambil¬†menulis identitas saya di buku tamunya, mengarahkan¬†matanya untuk melihat ekspresi saya.

Well this is the first time I am here and this is the first time I stay in hostel“, saya menjawab disambut senyum kecil mas bangladesh.

Welcome to Serenity and I am sure it is your¬†best choice to stay with us“, dia bicara dengan sangat yakin.¬†Saya tersenyum dan sejujurnya kalimat itu terdengar sangat menenangkan.¬†Sebagian besar kekhawatiran saya sudah sirna.

Can I use¬†the locker?“, tanya saya.
Yes, of course. To use it, you will be charged RM 1.00 per day, but we are currently running out of padlock. You need to use your own“.

Serenity menyediakan locker-locker untuk kita menyimpan barang-barang berharga. Ukurannya cukup besar. Saya bahkan bisa memasukkan tas laptop saya ke sana dan masih ada banyak ruang kosong.
Saya memandang ke arah sofa dimana sedari tadi seorang wanita lebih tua duduk disana dan ikut mendengarkan pembicaraan kami. Dia tersenyum.

Ternyata panjang tempat tidur double decker ini pas untuk saya.

Ternyata panjang tempat tidur double decker ini pas untuk saya.

Fasilitas free wifi tersedia dengan kecepatan baik di hostels ini. Saya sangat membutuhkan akses Internet kemana pun saya pergi. Saat akan memesan hotel, hal ini sangat saya perhatikan.

Hasil Speed Test kecepatan koneksi Internet di Serenity Hostels.

Hasil Speed Test kecepatan koneksi Internet di Serenity Hostels.

 

Meja untuk bekerja di ruang tamu

Meja untuk bekerja di ruang tamu

Kesimpulan

Saya tinggal selama 2 malam di Hostels ini. Kamar saya tidak penuh. Saya sekamar dengan 3 pria asal Indonesia yang jarang berada di hostels. Kalaupun mereka ada, mereka selalu tidur saat saya bangun dan bangun saat saya tidur. Hahaha. Btw, saya tidur dan bangun di jam normal, mereka tidak. Ga tau kemana aja semaleman.

Semua kekhawatiran saya tidak terjadi.
Barang-barang saya aman berada di locker. Bahkan HP yang saya taruh di samping bantal tetap aman.
Aktifitas orang keluar masuk kamar tidak terlalu menganggu saya. Sulit tidur di malam pertama saya anggap biasa karna saya masih belum terbiasa dengan suasana dan tempat tidurnya.
Kamar mandi sangat bersih. Semua tamu sopan.

I totally recommend you to try at least once staying in hostels. For the sake of experiencing it. ūüôā
Tinggal di hostels memang bukan untuk semua orang. I am not even sure I will do it again.
Bagaimana pun kamar hotel tetap memberikan kita lebih banyak privasi.

Saya membahas ini dari sisi saya sebagai solo traveler cowo. Mungkin akan berbeda dari sudut pandang cewe ya.
I guess, if you are traveling in group, hostels is the cheapest option. Sekamar rame-rame tapi temen semua. It’s nice!

If you have any questions, shoot them using the comment form below. I’ll be happy to answer. Hope it helps.

Facebooktwitterlinkedin