Malam itu, kami selesai mengitari sedikit daerah di District 1 dengan berjalan kaki dan merasakan lelah yang sangat. Berniat kembali ke hotel, kami melewati sebuah taman di depan Ben Thanh Market.

“Công viên 23 tháng 9” atau “September 23rd park” adalah taman kota di pusat kota Saigon yang sering dijadikan tempat nongkrong muda-mudi Viet Nam. Dengan penerangan yang baik di sebagian besar taman, kami mencari tempat duduk untuk beristirahat sebentar sebelum mulai jalan lagi balik ke Hotel.

Jam 9 lewat 30 menit malam itu, suasana masih sangat ramai dan taman ini seperti tidak peduli dengan keramaian dari kendaraan yang hilir mudik di jalanan Saigon. Saya menyapu suasana taman terutama di beberapa bagian yang sedikit remang-remang.
Arah jam 11, terlihat seorang pria paruh baya, duduk sendiri membelakangi saya. Tidak jelas apa yang sedang dilakukannya, tetapi dari kaki kanannya yang terus bergerak naik turun, saya merasakan ketidaksabarannya malam itu. Sesekali dia melihat ke arah jalan raya seperti sedang menunggu yang terlambat datang.

Di arah jam 10, saya melihat dua sejoli yang sedang berpelukan. Sesekali mereka berciuman. Ciuman pendek, ciuman panjang, yang pasti mereka nyaman saja dengan banyaknya orang yang lalu lalang. Seperti dunia memang milik berdua.
Saya merasakan waktu berhenti setiap kali melihat wajah mereka mendekat dan dekapan tubuh yang semakin erat.

Sayup-sayup gelak tawa sekumpulan anak muda di sisi kanan taman membawa saya kembali dan memalingkan wajah dari pasangan mesra tadi. Di tempat yang lebih terang, lumayan jauh, saya bisa merasakan getaran becandaan bahagia mereka malam itu. Mungkin membicarakan kebodohan-kebodohan mereka di sekolah 🙂

Sambil duduk saya mengeluarkan smartphone dari kantong celana, seakan saya lupa sejak mendarat di Saigon, entah sudah berapa kali saya diingatkan untuk tidak mengeluarkan HP di tempat umum demi alasan keamanan.

Tidak lama kemudian, saya mendengar, “Can you speak english?
Saya mencari arah suara. 2 pria muda berdiri di depan saya.
Yes, of course“, saya memastikan.

Where are you from?“, mereka bertanya.
Indonesia. How do you know I am a foreigner?“, saya ingin tau.
Easy, it’s your outfit, your backpack, and other things. We just knew.”, balas salah satu dari mereka yang belakangan saya ketahui bernama Loang.

Loang dan Thinh adalah 2 dari 4 mahasiswa yang mendekati kami malam itu. Mereka sering mencari orang asing untuk berlatih bahasa Inggris. Taman adalah tempat terbaik untuk itu. Bahasa Inggris mereka menurut saya ada di level baik. Mudah dimengerti. Kecuali ketika mereka mengucapkan 18 dan 80. Sulit dibedakan eighteen dan eighty. Hahaha. Ga tau kenapa.

Berkali-kali mereka mengingatkan kami menjaga barang-barang berharga karena tingkat kriminalitas terhadap turis lumayan tinggi di Saigon. Saya malah was-was berbicara dengan mereka. Jangan-jangan maling teriak maling. Hahaha. Pardon my negativity.

Kami berbagi cerita lewat pertanyaan-pertanyaan mengenai negara masing-masing. Yang penting buat mereka, bisa berlatih bahasa Inggris. Yang penting buat saya, mendapatkan informasi lebih mengenai Viet Nam. Pembicaraan mengalir saja seakan bahasa bukan lah masalah.

Thinh and Loang at September 23rd Park, Ho Chi Minh City, Viet Nam

Thinh and Loang at September 23rd Park, Ho Chi Minh City, Viet Nam

Berbicara hampir 1 jam, I learned that Loang is actually a student and an entertainer. He is a magician and also an event organizer. Penuh aktifitas. Thinh sendiri adalah mahasiswa full time, belum bekerja. Saya sempat meminta Loang memperlihatkan magic trick ke saya. Dia memilih memberhentikan jarum jam tangan saya. Pretty impressive (walaupun saya akhirnya tau triknya). 😀

Malam semakin larut dan sebelum pulang, kami sempat bertukar alamat email agar tidak kehilangan kontak. Mereka menyarankan untuk kembali bertemu besok di taman itu pada waktu yang sama. Saya mengiyakan.

I am glad they approached us that night. I love to connect with locals. Only from the locals you can get local’s stories. It somehow completes my journey.

Bagian menarik dari kisah ini adalah ketika saya tiba di hotel dan mulai memasukkan alamat email mereka ke search engine. Yep, I googled almost everything, including email address. Hasil pencarian menunjukkan salah satu dari mereka adalah Gay.
Can you tell?

Facebooktwitterlinkedin