Tinggal di daerah Bui Vien Street memudahkan akses kami ke Ben Thanh Market, sebuah pasar tradisional, mirip pasar Beringharjo di Jogja. Isinya penjual makanan (mulai dari yang ringan, berat, sampai ke dessert), penjual kopi (dari arabica, robusta hingga kopi luwak), penjual souvenir, dan tentunya, penghuni terbesar pasar ini, penjual baju.

Buat saya, yang paling menarik di Ben Thanh Market adalah kulinernya. Bertempat di bagian tengah pasar, puluhan stall makanan disini seperti sudah diseleksi ketat. Saya maraton kuliner disini. Berpindah dari satu gerai ke gerai berikutnya, seperti anak remaja puber yang kelaperan. πŸ˜€
Belum selesai satu saya sudah melirik yang lain. It was so fun I wanna upgrade my tummy!

Setelah kenyang dan hati senang, saya berjalan menyusuri lorong-lorong penjual baju yang suasananya mirip mangga dua, cuma mungkin lebih sempit. “Boleh kak, bajunya boleh” versi mangga dua menjadi “what are u looking for mister? You tell me what are u looking for, we hep we hep.” versi Ben Thanh Market.
“Wah, tampang gue bule nih. Dipanggil mister”, saya jadi pede banget salah fokus.

Kami berhenti di persimpangan antara 4 toko. Sisi kiri menjual t-shirt dan kemeja, depan t-shirt dan kemeja, belakang t-shirt dan kemeja, yang kanan scarf, t-shirt dan kemeja. Penjual scarf adalah seorang wanita muda, dandanan menor, lipstik merah menyala, rambut diikat ekor kuda, baju pink u-can-see dan celana hitam pendek (banget). Sedangkan penjual t-shirt sebelah kiri adalah juga wanita muda, dandanan biasa, rambut dicat oren, mengenakan baju jeans biru tua, bibir lebih tebal dan mata belo membelalak. Kebayang? πŸ˜€

Marto memberi isyarat ke saya tanda kita berhenti di toko baju sebelah kiri. Baju yang kemarin malam ingin dia beli di night market ternyata juga dijual disini. Negosiasi harga di pasar malam kemarin berujung buntu. Kami bertahan dengan angka kami, penjual bertahan dengan angka 2x lipat diatasnya. Harga dimulai dari VND 480.000 turun ke VND 350.000 β†’ VND 250.000 β†’ VND 200.000 β†’ VND 150.000 dan terakhir dengan strategi walk away harga diteriakkan oleh penjual jadi VND 100.000. Ruar biasa. πŸ˜€

Berbekal info harga kemarin malam, Marto memulai negosiasi dan saya menyemangati dari samping. Ikut nawar supaya jangan sampai deal diatas harga terakhir pasar malam. Beberapa menit kemudian saya meninggalkan Marto untuk melihat toko lain. Penjual scarf mendekat dan meminta saya beli scarf-nya. Saya senyum dan bilang engga.

Tamparan Pertama

Dari seberang toko saya melihat Marto dan dengan sedikit teriak dia ngasi tau bajunya deal di harga VND 90,000. Good Job! πŸ™‚ Saya pun berjalan mendekat kesana. Baru beberapa langkah, tiba-tiba, “PLAAAAK!”, sebuah tamparan mendarat di pipi lengan kanan saya. Belum sempat otak ini memproses mengapa, ada apa dan siapa, sebuah dorongan kuat terasa di punggung membuat saya terdorong ke depan. 2 Wanita Viet Nam terlihat kesal ke saya. Depan dan belakang. πŸ˜€
Ini pertama kalinya saya ditampar/digampar/dipukul/ditoyor/dijorokin/ditabok di negara orang. Hahahaha. Apa salah gueeee…

Pelaku penamparan adalah penjual baju, pelaku penjorokan adalah penjual scarf. Penjual baju rupanya KZL karna saya tadi sempat meminta Marto untuk terus menekan harga. Penjual scarf KZL karna saya ga mau beli scarfnya. Hahaha. Ganas yah wanita Viet Nam. Yang lucu, saya mendapatkan kesempatan ngejorokin wanita penjual scarf ketika dia balik badan. Hahahaha. Dia bisa KZL, saya juga donk.

Belanja di Pasar Ben Thanh agak sedikit bar-bar menurut saya. Penjual baju disana lebih agresif. Sekali nanya, mereka akan usahain harus deal. Baru lewat saja sudah ditarik kiri kanan. Ketika kita mau pergi, mereka bisa menahan tetap di tokonya. πŸ˜€ Ganas!
Memang ga sampe memaksa yang gimana-gimana sih.

Tamparan Kedua

Kami lanjut berjalan menuju bagian belakang pasar. Menemukan sederetan penjual souvenir. Kami berhenti di salah satu toko yang dijaga oleh 2 wanita muda Viet Nam. Muka mereka mirip, sepertinya kembar. Marto kembali melihat kalung dan gelang yang terbuat dari biji-biji (beaded necklace).

Melihat ke arah saya, Marto bertanya, “Bagus gak ini?”
“Gak ada yang istimewa sih kalung begini kalo buat jadi souvenir. Dimana-mana ada. Di tempat kita juga banyak.”, saya jawab.

Baru selesai kalimat itu, tiba-tiba, “PLAAAAK!”, tamparan kedua mendarat di lengan kanan saya lagi. Tapi kali ini terasa lebih enak, karna yang nabokin lebih cakep dari yang tadi. Huahahaha.

I don’t know your language, but I know that you are naughty. You tell your friend not to buy from me“, sedikit tersenyum wanita Viet Nam itu menjelaskan sebelum saya bertanya kenapa. Terlihat sebaris gigi putih dengan sebuah gigi gingsul di sudut bibirnya. Entah kenapa saya suka dia menggunakan kata naughty. Senyum saya mengembang seiring dengan perlahan memudarnya rasa sakit di lengan. πŸ™‚


Meninggalkan Ben Thanh Market siang ini, ada perasaan senang dan bangga for extraordinary experience with vietnamese girls.

Saigon, full of surprises. πŸ˜‰

Facebooktwitterlinkedin