Belakangan, keinginan saya untuk travel semakin besar. Kalau dilihat, sejak 2 tahun terakhir, saya tidak pernah benar-benar berada di kota Pekanbaru lebih dari 2 bulan. Tidak selalu travel juga sih, sering juga keluar kota ngurusin kerjaan. Apakah keinginan travel akan menurun? Will I get bored? I don’t know. At this moment, I love to travel more. 🙂

Seperti kebanyakan trip yang saya lakukan, memutuskan beli tiket ke Viet Nam baru saya lakukan 1 minggu sebelum keberangkatan. Pengen perginya sudah sejak 3-4 bulan lalu sebenarnya. Kalo gak salah inget, berawal dari Marto yang biasanya gak minat travel, tiba-tiba berbicara soal  ide jalan ke Viet Nam.

“Bro, Viet Nam kita? Total PP 3 jutaan. Rute PKU – KL – HO CHI MINH CITY – HANOI – KL – PKU”, saya menelpon Marto di minggu siang.
“Hah? Kapan?”, Marto kaget bercampur senang mau ketemu wanita Viet Nam. 😀
“Minggu depan! Selama 9 hari! Dibiayain perusahaan. Gimana?”, saya meyakinkan.
“Ayuk!”, suara Marto terdengar campur aduk, antara yakin dan tidak, antara senang dan gundah, antara Anyer dan Jakarta.

Saya ga nanya panjang lebar lagi memastikan apa Marto yakin akan berangkat. Buat saya, perjalanan ini harus terjadi. Hahaha. *evil*
Oh ya, saya dan Marto memang punya perusahaan bareng. Netviro.
So, this is a company trip. Tiket PP dan hotel ditanggung perusahaan. Jadi kami hemat banyak. 😀

Ga ada persiapan lengkap untuk trip kali ini. Ga tau apa yang ada di Ho Chi Minh City dan Ha Noi. Tidak punya itinerary pasti, belum booking hotel sama sekali. Hahaha. Well, cara traveling begini jangan ditiru ya. Gak sehat. Kaya hubungan tanpa kepastian.
Jadi kalau ditanya alasan apa memilih ke Viet Nam? Jawabannya, “Gak ngerti, pengen aja”.

We started the trip on September 16, 2014. Ended on September 24, 2014.


Ho Chi Minh City – HCMC

Menggunakan Vietnam Airlines, kami tiba di Bandara Tan Son Nhat hampir jam 3 sore waktu setempat. Jam disini sama dengan WIB.
Saya suka VA karna jarak kursinya lebar untuk pria berkaki panjang seperti saya. Trus dapet makan. I am always hungry!
Bonusnya, pramugari VA punya kostum tradisional Viet Nam yang khas. Making them look even better and me happier. hahaha. 😀

Sempet ada insiden pramugari kehilangan earring-nya. Jatoh kayanya. Kami dan beberapa penumpang sempat ikut mencari di sekitar tempat duduk masing-masing. Gak nemu sih akhirnya. Kesian. Itu bisa saja pemberian neneknya turun-temurun.

Karna belum memesan hotel, kami pun duduk santai di sebuah restoran fast food di luar terminal kedatangan yang punya free wifi. Saya mengobrol singkat dengan manager resto, ingin tahu sarannya mengenai lokasi terbaik untuk mencari hotel. He even went extra mile by giving us the address of a hotel which he highly recommend us to go. Such a nice guy. Turis Indonesia ini senang! 🙂

Sesuai saran, kami memilih daerah “District 1” sebagai tempat tinggal. Deket ke “Ben Thanh Market” dan daerah “Pham Ngu Lao” yang merupakan pusat turis di HCMC. Dengan berjalan kaki saja, ada beberapa tempat yang bisa kita kunjungi. Very convenient dan gak ngabisin uang buat transportasi. Latihan otot kaki juga, badan sehat, perut buncit mengecil dan melancarkan pencernaan. 😀

HCMC adalah kota terbesar di Viet Nam. Metropolitan banget, which I like. Banyak warganya yang berbahasa Inggris, walaupun tidak terlalu fasih, but it is enough for everyday conversation.


Ha Noi

Setelah 2 hari di HCMC, kami terbang lagi ke Ha Noi menggunakan Vietnam Airlines. Perjalanan sekitar 1 jam 45 menit tidak membosankan karena ditemani oleh pramugari-pramugari Vietnam yang cantik, baik hati, dan rajin menabung senyum. 😀

Ha Noi adalah Ibu kota Viet Nam. Kota ini terbesar kedua setelah HCMC. Lewat tour guide, saya baru tau kalau kata “Ha Noi” berarti “City inside a river”. Walaupun ini adalah Ibu Kota, tapi tidak se-metropolitan HCMC. Masih banyak gedung-gedung tua disini. Kota ini adalah sisi Viet Nam yang lebih tradisional.

Baru berkeliling sesaat di kota ini, saya bisa merasakan bahwa masyarakatnya hidup lebih santai daripada di HCMC. Mereka memanfaatkan taman-taman kota untuk berolahraga, mulai dari sekedar jogging, body building, hingga tai-chi (I call it the slow mo kungfu). 🙂

Secara umum, lebih sedikit warga Ha Noi yang fasih berbahasa Inggris. Some simply can’t speak the language.


Perjalanan kali ini ke Viet Nam membawa beberapa kisah menarik, diantaranya:

Facebooktwitterlinkedin