Memiliki wajah yang cina banget aka oriental, kulit putih dan mata sipit, bisa menjadi cukup intimidating ketika traveling di Asia.
Tekanan yang paling terasa ketika saya berada di Taipei selama 2 minggu. Trip ke Taiwan ini untuk menemani nenek dan papa saya kembali ke kampung halaman. Ya, nenek saya asli dari Taiwan tepatnya dari pulau Kimmoy. Sebuah pulau kecil yang lebih dekat ke dataran China dan menjadi basis militer Taiwan.

Berjalan di jalanan Taipei dengan wajah cina persis seperti penduduk lokal tapi tidak bisa berbahasa Mandarin dengan sempurna dan dialek Hokkian yang pas-pasan, adalah tekanan terbesar yang saya rasakan.
Masih kebayang bingungnya tampang penjual mie udang di pasar malam melihat saya, atau sulitnya saya memesan espresso atau kopi hitam di sebuah resto di jalanan Taipei buat papa yang ingin ngopi.
Tidak, penduduk Taipei tidak banyak yang bisa berbahasa Inggris.

Sering diberhentikan turis untuk menanyakan arah adalah tekanan berikutnya.
Terjadi di Malaysia, Singapore dan Thailand.
Kadang saking saya tidak ingin mengecewakan mereka, saya berpura-pura menjadi orang lokal.
Ngeluarin smartphone, buka google maps, dan nunjukin arah!
I think i ever tried speaking in singlish to disguise myself. hahaha.

Kadang, saya ingin dianggap turis. Ingin terlihat lebih Indonesia ketimbang dikira penduduk lokal! Jadi ga bisa bahasa Mandarin, ya gpp. Ga bisa hokkian, fine-fine aja.
I know, it’s okay to just admit & use English or even body language to interact with local.

Punya pengalaman serupa, please share on the comments below!

Facebooktwitterlinkedin